Sejarah Jurnalisme: Dari Awal Hingga Sekarang dan Tantangannya di Era Digital

Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px

Sejarah Jurnalisme: Dari Awal Hingga Sekarang dan Tantangannya di Era Digital

Redaksi
Rabu, 07 Januari 2026

Sejarah Jurnalisme: Dari Awal Hingga Sekarang dan Tantangannya di Era Digital

Sejarah jurnalis
adalah cermin perjalanan panjang manusia dalam mencari, merekam, dan menyebarkan informasi. Dari prasasti batu di Romawi kuno hingga berita kilat yang kita baca di ponsel hari ini, profesi ini selalu hadir di titik-titik penting sejarah peradaban.

Bagi FORUM JURNALIS BANTEN (FJB), memahami sejarah jurnalisme bukan hanya urusan akademis. Ini adalah cara untuk menegaskan kembali peran penting jurnalis sebagai penjaga kebenaran, pengawas kekuasaan, dan penyalur aspirasi masyarakat.


Era Awal: Jurnalisme Lahir dari Kebutuhan Informasi

Jurnalisme Zaman Kuno

Sejak ribuan tahun lalu, manusia punya kebutuhan dasar: ingin tahu dan ingin berbagi kabar. Di Kekaisaran Romawi, informasi penting dipajang di papan bernama Acta Diurna. Isinya macam-macam: hasil pertempuran, kebijakan baru, hingga pengumuman kelahiran dan kematian.

Selain itu, informasi juga beredar lewat pedagang, pengelana, dan utusan lisan. Meski sederhana, ini adalah cikal bakal persuratkabaran.

Abad ke-17: Mesin Cetak dan Lahirnya Pers Modern

Lompatan besar datang dengan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (abad ke-15). Pada abad ke-17, koran cetak mulai beredar di Eropa:

  • Relation aller Fürnemmen und gedenckwürdigen Historien (Jerman).
  • Oxford Gazette (Inggris).

Koran inilah yang melahirkan apa yang kita sebut jurnalisme modern: penyebaran kabar secara rutin dan lebih luas.

Jurnalisme Sebagai Alat Politik

Di fase awal, banyak media jadi corong propaganda penguasa atau kelompok politik. Objektivitas belum dikenal. Jurnalisme bisa jadi pedang bermata dua: menginformasikan atau memanipulasi.


Jurnalisme di Abad Keemasan: Revolusi dan Perang

Pers di Era Revolusi

Pada abad ke-18–19, media cetak jadi senjata ideologis.

  • Thomas Paine di Amerika menggunakan pamflet untuk menyebarkan semangat revolusi.
  • Di Prancis, surat kabar jadi wadah menyuarakan kebebasan dan keadilan.

Pers berubah fungsi: dari sekadar pemberi kabar menjadi panggung perlawanan.

Peran Wartawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Di Indonesia, jurnalisme adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan. Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar Medan Prijaji, membuka jalan jurnalisme nasionalis. Ia dijuluki Bapak Pers Indonesia.

Lewat media, rakyat pribumi belajar soal kesadaran politik, rasa kebangsaan, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Pers benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa.

Pers dalam Perang Dunia

Perang Dunia I & II melahirkan jurnalisme perang. Reporter dikirim ke medan tempur, melaporkan kabar langsung lewat radio atau koran. Meski sering terkena sensor, inilah titik lahirnya live report dan liputan dramatis yang membentuk persepsi publik tentang konflik.


Perkembangan Teknologi dan Jurnalisme Modern

Radio dan Televisi: Revolusi Elektronik

Awal abad ke-20, hadir radio. Untuk pertama kalinya, berita bisa didengar secara langsung.

Lalu televisi (1950-an) membawa dimensi visual. Masyarakat bisa melihat peristiwa dunia dengan mata kepala sendiri. Dari pidato presiden, perang Vietnam, hingga momen pendaratan di Bulan.

Media elektronik melahirkan ikon pembawa berita yang dipercaya publik.

Bangkitnya Jurnalisme Investigasi

Era 1970-an, muncul tren jurnalisme investigasi. Skandal Watergate adalah contoh paling monumental. Liputan The Washington Post menjatuhkan Presiden Nixon, menegaskan fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan.

Sejak itu, reportase investigasi jadi standar etika baru: jurnalis tak hanya melaporkan, tapi juga membongkar kebenaran yang disembunyikan.


Tantangan dan Pergeseran di Era Digital

Jurnalisme Online

Internet adalah revolusi terbesar sejak mesin cetak. Kini berita bisa tersebar dalam hitungan detik. Portal digital, media sosial, hingga blog menjadikan jurnalisme lebih cepat tapi sering kehilangan kedalaman analisis.

Ancaman Hoax dan Erosi Kepercayaan

Masalah besar di era digital adalah hoax. Siapapun bisa jadi “jurnalis dadakan” hanya bermodal smartphone. Algoritma media sosial memperkuat berita palsu, membingungkan publik antara fakta dan fiksi.

Citizen Journalism

Fenomena jurnalisme warga lahir: masyarakat bisa merekam dan melaporkan langsung kejadian. Demokratisasi informasi ini punya sisi positif, tapi juga rawan karena minim verifikasi dan etika jurnalistik.


Etika Jurnalistik: Pilar yang Tak Boleh Runtuh

Etika jurnalistik adalah fondasi. Sejak awal abad ke-20, organisasi pers mulai menyusun kode etik untuk menjaga kredibilitas.

Prinsip-prinsip utama:

  • Kebenaran & verifikasi fakta.
  • Independensi dari kepentingan politik/ekonomi.
  • Menghormati privasi & martabat narasumber.
  • Tanggung jawab sosial.

Di tengah banjir informasi digital, etika ini justru makin vital. Jurnalisme tanpa etika sama saja dengan propaganda.


Masa Depan Jurnalisme: Antara Optimisme dan Tantangan

Sejarah jurnalis membuktikan profesi ini selalu beradaptasi. Dari prasasti kuno hingga TikTok news, esensinya tetap sama: mencari dan menyampaikan kebenaran.

Namun, masa depan jurnalisme ditentukan oleh dua hal:

  1. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
  2. Komitmen menjaga etika dan kepercayaan publik.

Bagi FORUM JURNALIS BANTEN, tugas jurnalis di era disinformasi bukan sekadar menulis cepat, tapi menjadi penjaga kebenaran. Hanya dengan kualitas dan integritas, profesi ini bisa terus menjadi pilar demokrasi.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa perbedaan antara jurnalisme dan berita palsu (hoax)?

Jurnalisme adalah proses profesional yang didasarkan pada verifikasi fakta, etika, dan objektivitas untuk melaporkan kebenaran. Sebaliknya, berita palsu atau hoax adalah informasi yang sengaja dibuat untuk menipu, menyesatkan, atau mendapatkan keuntungan, tanpa didukung oleh data atau sumber yang kredibel.

Siapa yang disebut "Bapak Pers Indonesia"?

Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai "Bapak Pers Indonesia" karena perannya yang sangat penting dalam memelopori jurnalisme modern di Indonesia pada awal abad ke-20. Ia mendirikan surat kabar pribumi yang kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda, seperti Medan Prijaji.

Mengapa jurnalisme disebut sebagai "pilar keempat" demokrasi?

Jurnalisme disebut demikian karena ia memiliki peran yang setara dengan tiga pilar kekuasaan lainnya dalam demokrasi: eksekutif (pemerintah), legislatif (parlemen), dan yudikatif (peradilan). Pers berfungsi sebagai pengawas independen yang mengawasi kekuasaan, memastikan transparansi, dan menyuarakan aspirasi rakyat.

Apakah jurnalisme warga (citizen journalism) sama dengan jurnalisme profesional?

Tidak. Jurnalisme warga adalah laporan atau liputan yang dilakukan oleh masyarakat umum, seringkali melalui media sosial. Meskipun bermanfaat karena kecepatan dan perspektifnya, jurnalisme profesional memiliki standar yang lebih tinggi, seperti verifikasi mendalam, kode etik, dan tanggung jawab hukum yang tidak dimiliki oleh jurnalisme warga.

Apa tantangan terbesar jurnalisme saat ini?

Tantangan terbesar saat ini adalah disinformasi massal dan berita palsu yang menyebar cepat di era digital. Selain itu, model bisnis media tradisional yang semakin tergerus dan tekanan untuk memproduksi konten instan seringkali mengorbankan kualitas dan kedalaman liputan.

Penulis: Fuad Hasan

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.